Selasa, 14 Mei 2013

Virus pada Tumbuhan



Virus pada tumbuhan

1.      Budok
Penyakit ini disebabkan oleh virus atau MLO(Mycoplasm Like Organism) yang disebar oleh serangga vektor.Daun mula berubah bentuk menjadi seperti kerupuk dengan ketebalan melebihi daun normal.Warna permukaan daun bagian bawah menjadi kasar,tulang daun menebal dan keriput.Kelainan ini akan menyebar sampai ke pucuk dan daun-daun lain dalam satu pohon.Hingga akhir pertumbuhan tanaman tertekan dan tidak bisa bertambah besar,serta konopinya pun mengecil.Untuk mencegah serangan,penyemprotan insektisida secara rutin seperti dengan Sevin 85 S,Basudin atauAzodrin 15 % selang 2-6 minggu sekali.

2.      Penyakit mosaik
Penyakit mosaik, yakni jenis penyakit yang menyerang tanaman tembakau. Penyebabnya adalah tobacco mosaic virus (TMV) Penyakit tungro, yakni jenis penyakit yang menyerang tanaman padi. Penyebabnya adalah virus Tungro. Penyakit degenerasi pembuluh tapis pada jeruk. Penyebabnya adalah virus citrus vein phloem degeneration (CVPD).

3.      Virus Kuning
Salah satu OPT yang perlu diwaspadai adalah penyakit Virus Kuning. Penyakit ini sangat merugikan, Penyakit tanaman cabe tberupa virus kuning atau Bule sangat mengganggu. Penyakit ini disebabkan oleh serangga yang disebut Besmisia tabaci atau kutu kebul. Serangan virus kuning bisa berakibat pada penurunan produksi cabe bahkan kecenderungan gagal panen.
Secara kasat mata gejala serangan penyakit Virus Kuning mudah dikenali dengan ciri-ciri: Terjadi klorosis pada anak tulang daun dari daun muda dan menyebar keseluruh bagian tanaman, hingga tampak tanaman menguning, Daun mengeriting keatas, menebal dengan ukuran yang mengecil. . Pertumbuhan terhambat atau kerdil. Jika ciri-ciri serangan penyakit Virus Kuning telah diketahui, langkah-langkah selanjutnya mengedepankan metode pengendalian secara PHT, agar supaya tanaman bisa aman tetapi lingkungan juga aman dari pencemaran yang diakibatkan oleh penggunaan pestisida yang kurang bijak.

4.       Virus Belang
Penyakit virus belang pada kacang tanah merupakan penyakit penting dan tersebar luas di daerah pusat pertanaman kacang tanah di Indonesia. Kehilangan basil akibat serangan penyakit virus belang berkisar 10 -60% tergantung dari jenis kacang tanah serta musim dan umur tanaman pada saat terinfeksi. Gejala yang sering dijumpai di lapang adalah gejala belang berwama hijau tua dikelilingi daerah yang lebih terang atau hijau kekuning-kuningan. Pada umumnya gejala awal pada daun muda terluhat adanya bintik- bintik klorotik yang selanjutnya berkembang menjadi belang-belang melingkar. Pada daun tua berwarna hijau kekuningan dengan belang-belang berwarna hijau tua. Pertembuhan tanaman yang terinfeksi menjadi terhambat sehingga tanaman menjadi pendek dibandingkan tanaman sehat terutama apabila terinfeksi pada saat tanaman muda. Penyimpangan anatomi juga terdapat pada lembaga biji tanaman sakit. bentuk serangan dan cara penularan penyakit Peanut Stripe Virus (PStV) sehingga pengendaliannya dapat dilaksanakan seawal mungkin. Penyakit ini ditimbulkan oleh PStV dan mengakibatkan kehilangan hasil antara 10-16 persen. Penyakit PStV ditularkan secara nonpersisten oleh berbagai jenis kutu daun seperti Aphis craccivora, A. glycines, A. pomi, dsb, juga melalui benih kacang tanah dengan tingkat penularan 0,1-1,4 persen. Tanaman yang terinfeksi pada umur muda akan menghasilkan biji terinfeksi yang lebih tinggi dibandingkan tanaman terinfeksi pada umur yang telah tua. Selain kacang tanah, PStV dapat menular ke berbagai jenis tanaman kacang-kacangan seperti kedelai, kacang panjang, buncis, kacang hijau, dan beberapa jenis gulma. Di lapangan sumber infeksi dapat berasal dari benih sakit, tanaman budidya kacang-kacangan lain, gulma, maupun tumbuhan liar. Penyebaran dan perkembangan epidemi penyakit virus belang kacang tanah sangat ditentukan oleh tersedianya sumber infeksi dan aktivitas serangga penular. Usaha pengendalian PStV lebih ditujukan pada usaha untuk menghindari infeksi, menunda dan mengurangi penyebaran sekunder penyakit. Keberhasilan pengendalian penyakit banyak ditentukan oleh kebersamaan tindakan pengendalian yang meliputi areal yang luas. Beberapa alternatif pengendalian adalah menanam benih sehat, mengatur masa tanam, mengatur jarak tanam, melakukan rotasi tanaman, sanitasi dan eradikasi tanaman sakit, dan mengendalikan serangga penular


a.       TMV(Tobacco Mosaik Virus)
Virus ini menyerang daun tumbuhan tembakau sehingga lama kelamaan daun tersebur rusak dan berwarna kuning.
b.      CVFDV(Citrus Vein Floem Degeneration Virus)
Virus ini menyerang jaringan pengangkut(floem) tumbuhan jeruk sehingga pembuluh floem mengalami degenerasi.
c.       Virus Tungro
Virus ini menyerang tumbuhan padi dll,hospes perantaranya/inang perantarnya adalah bermacam-macam wereng.


5.      Pelepah dan helaian daun memendek dan daun yang terserang berwarna kuning sampai kuning-oranye.
  • Daun muda sering berlurik atau strip berwarna hijau pucat sampai putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun.
  • Gejala mulai dari ujung daun yang lebih tua.
  • Daun menguning berkurang bila daun yang lebih tua terinfeksi.
  • Dua spesies wereng hijau Nephotettix malayanus dan N.virescens adalah serangga yang menyebarkan (vektor) virus tungro.
  • Infeksi tungro pada tanaman padi khususnya varietas peka akan menimbulkan gejala kerdil, jumlah anakan berkurang.
  • Daun menguning, menggulung keluar dan agak sedikit terpuntir. Tanaman yang kerdil pada ruas daun kedua memendek.
  • Karena adanya perpanjangan pelepah daun baru maka daun yang membuka kadang-kadang pelepahnya terjepit.
  • Akar tanaman berkurang dan gabah yag dihasilkan kecil dan sering tidak sempurna
  • Gejala penyakit tungro pada tanaman yang terinfeksi virus mulai dapat dilihat pada umur 7 – 10 hari sesudah diinokulasi.
  • Penelitian telah menunjukkan bahwa N. virescens dapat menularkan kedua macam virus tersebut secara bersamaan atau masing-masing sendiri-sendiri dari tanaman yang terinfeksi oleh kedua virus tersebut.
  • Tanaman yang terinfeksi oleh kedua virus tersebut menunjukkan gejala yang serius, yang terinfeksi oleh RTSV saja tidak menunjukkan gejala yang jelas,
  • Konsentrasi RTBV yang tinggi dalam jaringan tanaman akan menyebabkan gejala berwarna orange pada daun
  • Tungro tidak dapat ditularkan melalui biji ataupun secara mekanik, tetapi harus ada serangga penular (vektor) yaitu wereng hijau (Nephotettix spp.) atau wereng loreng ((Recilia dorsalis).
  • Sifat penularan virus oleh vektornya bersifat semi persisten artinya periode akuisisi minimum 5-30 menit dan periode inokulasi minimum 7-30 menit.
  • Masa inkubasi virus pada tanaman 6-10 hari, virus dapat ditularkan melalui semua stadia serangga, yaitu nimfa dan imagonya, jantan dan betina, tapi tidak melalui telur.
  • sekali lagi Virus tidak menular melalui tanah, air atau biji padi OK

Mengapa tungro harus dikendalikan?
  • Tungro adalah satu dari penyakit padi yang paling merusak di Asia Tenggara dan Asia Selatan.
  • Epidemik penyakit ini telah terjadi sejak pertengahan tahun 1960an.
  • Malai yang terserang jarang menghasilkan gabah, menjadi pendek dan steril atau hanya sebagian yang berisi dengan gabah yang berubah warna.
  • Pembungaan tanaman sakit tertunda dan pembentukan malai sering tidak sempurna.
Penyakit tungro tidak akan menyebar jika tidak ada tanaman sakit yang menjadi sumber inokulum, demikian juga jika tidak ada wereng hijau sebagai vektornya.
Selain adanya kedua faktor di atas , kondisi lapangan juga menunjang perkembangan seperti:
  • kepekaan varietas yang ditanam
  • tersedianya tanaman padi yang terus menerus
  • faktor iklim seperti curah hujan
  • kecepatan angin akan mempercepat penyebaran peyakit tungro
Bagaimana Mengendalikan Tungro?
  • Varietas tahan. Penggunaan varietas tahan seperti Tukad Unda, Tukad Balian, Tukad Petanu, Bondoyudo, dan Kalimas merupakan cara terbaik untuk mengendalikan tungro.
  • Rotasi varietas penting untuk mengurangi gangguan ketahanan.
  • Pembajakan di bawah sisa tunggul yang terinfeksi.
  • Hal ini dilakukan untuk mengurangi sumber penyakit dan menghancurkan telur dan tempat penetasan wereng hijau.
  • Bajak segera setelah panen bila tanaman sebelumnya terkena penyakit.
  • Cabut dan bakar tanaman yang sakit. Ini perlu dilakukan kecuali bila serangan tungro sudah menyeluruh.
  • Bila serangan sudah tinggi maka mungkin ada tanaman yang terinfeksi tungro tapi kelihatan sehat.
  • Mencabut tanaman yang terinfeksi dapat mengganggu wereng hijau sehingga makin menyebarluaskan infeksi tungro.
  • Tanam benih langsung (Tabela): Infeksi tungro biasanya lebih rendah pada tabela karena lebih tingginya populasi tanaman (bila dibandingkan tanam pindah).
  • Dengan demikian wereng cenderung mencari dan makan serta menyerang tanaman yang lebih rendah populasinya.
  • Waktu Tanam: Tanam padi saat populasi wereng hijau dan tungro rendah.
  • Tanam serempak: Upayakan petani tanam serempak. Ini mengurangi penyebaran tungro dari satu lahan ke lahan lainnya karena stadium tumbuh yang relatif seragam.
  • Bera atau rotasi. Pertanaman padi terus-menerus akan meningkatkan populasi wereng hijau sehingga sulit mencegah infeksi tungro.
  • Adanya periode bera atau tanaman lain selain padi dapat mengurangi populasi wereng hijau dan ketersediaan inang untuk virus tungro.
  • Hindari penanaman varietas rentan di daerah endemik tungro.
  • Setelah panen, segera benamkan jerami dan sisa-sisa tanaman dari yang terinfesi tungro dengan bajak dan garu.
  • Pengendalian juga perlu dilakukan untuk wereng hijau dengan menggunakan insektisida yang berbahan aktif BPMC, buprofezin, etofenproks , imidakloprid
6.      Cacar daun cengkeh
Penyakit
:
Cacar daun cengkeh
Penyebab
:
Phyllosticta syzygii
Inang
:
Cengkeh
Sebaran
:
Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.
Gejala
:
Bagian yang terinfeksi adalah daun, ranting muda, dan bunga. Daun muda yang berwarna merah apabila terinfeksi akan meluluh, melengkung ke atas, tetapi terkadang ke bawah. Seluruh daun mengalami malformasi. Bagian bercak yang melepuh biasanya terdapat titik-titik hitam. Gejala yang sama juga ditunjukkan pada daun yang terinfeksi sudah berwarna hijau. Daun yang terinfeksi sebagian besar terdapat di bagian bawah tanaman.
Deskripsi
:
Piknidium kehitaman, berbentuk bulat, diameter 47-93 µm. Konidium bersel satu, berbentuk oval, dan berukuran 4,5-8,5 x 3-5 µm. Pemencaran konidium dalam area pertanaman melalui percikan air hujan. Spora berkecambah dalam tetesan air hujan atau embun.  
 
Pengendalian
:
Pelarangan pengangkutan benih antar area, menanam bibit sehat, sanitasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar